BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara
umum perkecambahan benih adalah berkembangnya struktur penting dari embrio yang
ditandai dengan munculnya strktur tersebut dengan menembus kulit benih. Untuk
memulai kecambah ini umumnya benuh dari kebanyakan tanaman akan segera
berkecambah dalam lingkungan yang sesuai, tetapi aada juga ang menghendaki
persyaratan khusu. Persyaratan yang bebrbeda dari bermacam-macam benih adalah
penting untuk diketahui karena: 1) sebagai pedoman untuk penanaman benih, 2)
untuk menetaapkan perlakuan tertentu erhadapr benih, dan 3) pada rumputan
sebagai petunjuk untuk memberantas tanaman pengganggu.
Perkecambahan benih
dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam seperti tingkat
kemasakan benih, Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya
tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan
makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna. Pada umumnya
sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih
tersebut juga telah mencapai masak fisiologis atau masak fungsional dan pada
saat itu benih mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum (vigor) dan
daya kecambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih mempunyai mutu
tertinggi. Yang kedua adalah ukuran benih Benih yang berukuran besar dan berat
mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil
pada jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan
digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan.
Kulit benih termasuk
sebagai faktor perkecambahan. Apabila kulit benih terlalu tebal maka benih
tidak dapat menyerap cadangan makanan dan kedap terhadap air dan oksigen
sehingga megakibatkan proses perkecambahan yang tidak normal. Oleh karena itu dengan dipelajari dan dilakukannya
praktikum ini untuk membuktikan apakah kulit benih dapat menghambat proses
perkecambahan.
Faktor luar yang
mempengaruhi perkecambahan ialah air, Penyerapan air oleh benih dipengaruhi
oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang
tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan
bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut
dipengaruhi oleh suhu. Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan
berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi
dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5 sd 35°C. yang ketiga adalah
oksigen, pada proses perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai
dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi
panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses
perkecambahan benih. Faktor yang terakhir adalah cahaya, pengaruh cahaya
terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya,
lamanya penyinaran.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa
mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih.
2. Mahasiswa
dapat mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih
pepaya.
BAB 2. TINAJAUN PUSTAKA
Biji
merupakan persatuan gamet jantan dan betina yang menggambarkan konstribusi dari
kedua orang tuanya. Reprodiksi dengan biji tersebut dapat diperkirakan akan
menimbulkan variasi pada tanaman yang dihasilkan. Dengan demikian perkembangan
tanman menggunakan biji memerlukan pengetahuan untuk mengendalikan variasi
genetik yang timbul pada tanaman yang dihasilkan (Mangoendidjojo, 2003).
Benih
kakao yang baru dikeluarkan dari buah atau benih kakao yang baru keluar dari
pengiriman harus segera dikecambahkan karena benih kakao tidak memiliki masa
dormansi. Mutu biji kakao sangat dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya
tingkat produsen, jenis kakao, keadaan tanah, tinggi tempat, suhu, kelembaban
udara, curah hujan, dan lain-lain. Namun yang paling menentukan adalah proses
fermentasi biji kakao, karena pada proses fermentasi tidak dapat diperbaiki
pada proses selanjutnya (Pracaya, 2000)
Ukuran
benih banyak berhubungan dengan viabilitas dan vigor benih. Dalam teknologi benih tanaman hutan faktor ukuran
benih belum banyak dijadikan aspek dalam seleksi benih kecuali untuk benih jati. Untuk penelitian pengaruh variasi ukuran benih perlu dilakukan secara berkesinambungan agar informasinya dapat dipergunakan dalam kegiatan penanganan
benih (Suita, 2008).
Menurut Deden (2006) proses
perkecambahan merupakan tahap awal dari proses pembentukan tanaman baru pada
tumbuhan berbiji. Kelompok tumbuhan berbiji menghasilkan biji yang merupakan
propagul untuk tumbuh menjadi individu baru. Di dalam biji tersebut terdapat
berbagai komposisi kimia yang berperan sebagai embrio yang dapat aktif tumbuh
menjadi individu baru apabila berada pada kondisi lingkungan yang
sesuai.Kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkecambahan biji ini mencakup
kesesuaian air, udara, cahaya, dan panas.
Benih merupakan tanaman
yang digunakan untuk perbanyakan. Selain itu benih juga digunakan untuk
pertanaman, mencapai produksi secara maksimum dan sebagai wahana teknologi maju
yang mampu melestarikan kemurnian genetik. benih tanaman adalah bakal biji yang
dibuahi (struktural), yang digunakan untuk pertanaman (fungsional), sebagai
sarana untuk mencapai produksi maksimum (agronomi), sebagai wahana teknologi
maju yang mampu melestarikan identitas genetik dengan mencapai derajat
kemurnian genetik yang setinggi-tingginya (teknologi), dan sebagai produk
artifisial yang sangat spesifik dan efisien.
(Sumiasri, 2010).
Berdasarkan
beberapa penelitian, untuk jenis-jenis tertentu benih besar mempunyai kualitas yang
lebih baik daripada benih kecil, namun kondisi tersebut tidak berlaku umum
karena pada kondisi tertentu ukuran benih tidak berpengaruh nyata terhadap viabilitas dan vigor bibit (Bonner, 1987). Hendromono (1996)
menyatakan bahwa benih Hymenaea courbaril yang berukuran besar menghasilkan bibit yang
pertumbuhannya lebih cepat daripada benih kecil walaupun diameter pangkal
batang bibit tidak ada perbedaan yang nyata, diduga karena benih besar
mempunyai embrio dan cadangan makanan yang lebih besar sehingga pertumbuhannya
lebih cepat. Sifat ini berlanjut sampai tanaman berumur satu tahun di lapangan.
Hal serupa juga terjadi pada jenis Liquidambar
styraciflua (Bonner, 1987),
tetapi Chaisurisri, et al. (1994) tidak menemukan hubungan yang nyata secara statistik
antara benih berukuran besar dan kecil dengan pertumbuhan semai Picea
sitchensis pada umur 8 bulan (Suita, 2008).
BAB 3. METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum
ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2013 pada pukul 06.00-07.30 bertempat di
laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jember.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Alat
1. Cutter
2. Cawan petri
3. Alat Pengecambah
4. Kertas label
5. Substrat kertas merang
6. Kertas karbon hitam
7.
Kapas
3.2.1
Bahan
1.
Buah pepaya yang
telah masak (masak fisiologis).
2.
Abu gosok
3.3 Cara Kerja
1. Mempersiapkan benih pepaya yang diambil dari bagian
tengah buah pepaya (lebih kurang 1/3 bagian).
2. Membuang aril Benih pepaya dengan abu dapur, kemudian mencuci
bersih dan meniriskannya.
3. Benih pepaya dibuat perlakuan sebagai berikut :
a. benih tidak dikupas kulitnya/endotestanya.
b. benih kulitnya dikupas sebagian.
c. Benih kulitnya dikupas seluruhnya.
Setelah itu
dikering-anginkan sampai kering atau dikeringkan dengan sinar matahari selama
satu hari, kemudian dikecambahkan pada kondisi gelap dan terang.
4. Membuat media perkecambahan dengan menggunakan substrat kertas merang yang dilapisi kapas dalam
cawan petri sebanyak enam kombinasi perlakuan dalam satu dua ulangan.
5. Menanam benih pepaya dalam substrat yang terlebih dahulu
dibasahi dengan air, masing-masing sebanyak 25 butir.
6. Melakukan perkecambahan benih dengan kondisi gelap dan terang, untuk kondisi
gelas cawan petri ditutup kertas karbon hitam, sedangkan kondisi terang
petridis tanpa tutup, kemudian masing-masing perlakuan letakkan pada alat
pengecambah.
7. Menjaga kelembaban substrat perkecambahan dengan
memberikan air secukupnya.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
|
Perlakuan
|
ulangan
|
Perkecambahan
|
|||||
|
Kulit
benih pepaya
|
Kondisi
perkecambahan
|
Hari
ke-8
|
Hari
ke- 14
|
||||
|
Normal
|
Mati
|
Normal
|
Abnormal
|
Mati
|
|||
|
Benih
tidak dikupas kulitnya
|
Terang
|
1
|
0%
|
100%
|
0%
|
0%
|
100%
|
|
Gelap
|
1
|
0%
|
100%
|
0%
|
0%
|
100%
|
|
|
Benih
kulitnya dikupas sebagian
|
Terang
|
1
|
20%
|
80%
|
20%
|
0%
|
80%
|
|
Gelap
|
1
|
0%
|
100%
|
0%
|
0%
|
100%
|
|
|
Benih
tanpa kulitnya dikupas
|
Terang
|
1
|
0%
|
100%
|
0%
|
0%
|
100%
|
|
Gelap
|
1
|
0%
|
100%
|
0%
|
0%
|
100%
|
|
Tabel 2.JumlahKecambah Normal
|
Jumlahkecambah normal
|
|||
|
Perlakuan
|
Tidakdikupas
|
Kupassebagian
|
Kupassemua
|
|
Terang
|
0%
|
20%
|
0%
|
|
Gelap
|
0%
|
0%
|
0%
|
Tabel 3.Jumlah
Kecambah Mati Dan Abnormal
|
Jumlah Kecambah Mati Dan Abnormal
|
|||
|
Perlakuan
|
Tidakdikupas
|
Dikupassebagian
|
Dikupassemua
|
|
Terang
|
100%
|
80%
|
100%
|
|
Gelap
|
100%
|
100%
|
100%
|
4.2 Pembahasan
Padaa perlakuan
benih yang tidak dikupas kulitnya baik perlakuan pada kondisi terang ataupun
gelap sama-sama tidak mengalami perkecambahan, kondisi ini disebabkan dormansi
kulit yang kuat. Kulit pada peapya terdapat dua lapisan dan ini yang membuat
sulit embrio berkecambah. Pada perlakuan kulit dikupas separuh atau sebgaian
pada perlakuan terang 20% biji dapat tumbuh normal pada hari ke – 8, hingga
hari ke – 14 pun hanya pada perlakuan teerang pada pengupasan kulit sebagian
yang tumbuh. Pada perlakuan gelap dan pengupasan kulit sebagian tidak tumbuh,
ini disebabkan pada masa benih berkecambah dibuthkan cahaya dengan panjang
gelombang 660-700 nM untuk mengaktifakn metabolismenya. Perlakuan mengupas
kulit seluruhnya pada kondisi terang dan gelap tidak menghasilkan perkecambahan
sama sekali, ini mungkin terjadi karena terlukanya benih saat pengupasan dan
menyebabkan matinya benih.
Faktor yang
mempengaruhi perkecambahan benih pepaya adalah dormansi kulit, cahaya dan suhu.
Kulit pada benih pepaya sangat tebal dan terdiri dari dua lapisan yang membuat
embrio kesulitan untuk tumbuh. Cahay sangat berpengaruh dalam perkecambahan,
panjang gelombang cahaya yang dibutuhkan tanaman berkisar 660-700 nM.
Cahaya berguna
pada perkcambahan benih pepaya sebgai pengaktif metabolisme pada benih. Cahay
yang datang akan disaring oleh kulit, agar tidak semua panjang gelombang cahaya
dapat masukd dan diterima oleh benih, cahaya yang sesuai untuk perkecambahan
berkisar 660- 700 nM. Pepaya memilki dua laipasan yang meildungi embrio.
Pada praktikum
ini dapat terlihat bahwa pada pengupasan sebagia kulit menghasilkan
pertumbuahan kecambah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kemungkinan pada
perlakuan pegupasann keseluruhan kulit, embrio terlukan dan mengakibatkan
matinya embrio dan tidak dapat berkecambah. Pada perlakuan pengpasan sebgaian
20% beih tumbuh. Pada perlakuan tanpa kupasan masih belum tumbuh, kemungkinan
memerlukan waktu perkecambahn yang lebih lama.
BAB
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Pada perlakuan
pengupasan kulit sebgaib dan kondisi terang dapat menumbuhkan 20% biji hingga
hari ke-14. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daya kecambah dan kecepatan
berkecambah terbaik terdapat pada perlakuan pengupasan kulit sebgaian dan
kindisi terang.
5.2
Saran
Diperlukan
kehati-hatian dalam mengupas kulit ari biji pepaya karena bila embrio terluka
saat pengupasan biji akan mati dan tidak dapat berkecambah.
DAFTAR PUSTAKA
Mugnisjah Q.
1994. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih.
Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Ngitung R, et al. 2008. Fenologi dan Tingkat
Kemasakan Benih Mengkudu. Agroland Vol 15 no. 3 hal 204-209.
Saleh SM, et al. 2008. Pengaruh Skarifikasi dan
Media Tumbuh Terhadap Viabilitas Benih dan Vigor kecambah Aren. Agroland Vol 15
no. 183-190
Widyawati. 2009.
Permeabilitas dan Perkecambahan Benih Aren. Agronomi Indonesia vol 37 no 2 hal 152-158
Tidak ada komentar:
Posting Komentar