Senin, 29 April 2013

uji kedalaman tanam


BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Secara umum perkecambahan benih adalah berkembangnya struktur penting dari embrio yang ditandai dengan munculnya strktur tersebut dengan menembus kulit benih. Untuk memulai kecambah ini umumnya benuh dari kebanyakan tanaman akan segera berkecambah dalam lingkungan yang sesuai, tetapi aada juga ang menghendaki persyaratan khusu. Persyaratan yang bebrbeda dari bermacam-macam benih adalah penting untuk diketahui karena: 1) sebagai pedoman untuk penanaman benih, 2) untuk menetaapkan perlakuan tertentu erhadapr benih, dan 3) pada rumputan sebagai petunjuk untuk memberantas tanaman pengganggu.
Perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam seperti tingkat kemasakan benih, Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna. Pada umumnya sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut juga telah mencapai masak fisiologis atau masak fungsional dan pada saat itu benih mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum (vigor) dan daya kecambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih mempunyai mutu tertinggi. Yang kedua adalah ukuran benih Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan.
Kulit benih termasuk sebagai faktor perkecambahan. Apabila kulit benih terlalu tebal maka benih tidak dapat menyerap cadangan makanan dan kedap terhadap air dan oksigen sehingga megakibatkan proses perkecambahan yang tidak normal. Oleh karena itu dengan dipelajari dan dilakukannya praktikum ini untuk membuktikan apakah kulit benih dapat menghambat proses perkecambahan.
Faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan ialah air, Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu. Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5 sd 35°C. yang ketiga adalah oksigen, pada proses perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan benih. Faktor yang terakhir adalah cahaya, pengaruh cahaya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran.
1.2 Tujuan
1.    Mahasiswa mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih.
2.    Mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya.
BAB 2. TINAJAUN PUSTAKA
Biji merupakan persatuan gamet jantan dan betina yang menggambarkan konstribusi dari kedua orang tuanya. Reprodiksi dengan biji tersebut dapat diperkirakan akan menimbulkan variasi pada tanaman yang dihasilkan. Dengan demikian perkembangan tanman menggunakan biji memerlukan pengetahuan untuk mengendalikan variasi genetik yang timbul pada tanaman yang dihasilkan (Mangoendidjojo, 2003).
Benih kakao yang baru dikeluarkan dari buah atau benih kakao yang baru keluar dari pengiriman harus segera dikecambahkan karena benih kakao tidak memiliki masa dormansi. Mutu biji kakao sangat dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya tingkat produsen, jenis kakao, keadaan tanah, tinggi tempat, suhu, kelembaban udara, curah hujan, dan lain-lain. Namun yang paling menentukan adalah proses fermentasi biji kakao, karena pada proses fermentasi tidak dapat diperbaiki pada proses selanjutnya (Pracaya, 2000)
Ukuran benih banyak berhubungan dengan viabilitas dan vigor benih. Dalam  teknologi benih tanaman hutan faktor ukuran benih belum banyak dijadikan aspek dalam seleksi  benih kecuali untuk benih jati. Untuk  penelitian pengaruh variasi  ukuran benih perlu dilakukan secara berkesinambungan  agar informasinya  dapat dipergunakan dalam kegiatan penanganan benih (Suita, 2008).
            Menurut Deden (2006) proses perkecambahan merupakan tahap awal dari proses pembentukan tanaman baru pada tumbuhan berbiji. Kelompok tumbuhan berbiji menghasilkan biji yang merupakan propagul untuk tumbuh menjadi individu baru. Di dalam biji tersebut terdapat berbagai komposisi kimia yang berperan sebagai embrio yang dapat aktif tumbuh menjadi individu baru apabila berada pada kondisi lingkungan yang sesuai.Kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkecambahan biji ini mencakup kesesuaian air, udara, cahaya, dan panas.
Benih merupakan tanaman yang digunakan untuk perbanyakan. Selain itu benih juga digunakan untuk pertanaman, mencapai produksi secara maksimum dan sebagai wahana teknologi maju yang mampu melestarikan kemurnian genetik. benih tanaman adalah bakal biji yang dibuahi (struktural), yang digunakan untuk pertanaman (fungsional), sebagai sarana untuk mencapai produksi maksimum (agronomi), sebagai wahana teknologi maju yang mampu melestarikan identitas genetik dengan mencapai derajat kemurnian genetik yang setinggi-tingginya (teknologi), dan sebagai produk artifisial yang sangat spesifik dan efisien.  (Sumiasri, 2010).
Berdasarkan beberapa penelitian, untuk jenis-jenis tertentu benih besar mempunyai kualitas yang lebih baik daripada benih kecil, namun kondisi tersebut tidak berlaku umum karena pada kondisi tertentu ukuran benih tidak berpengaruh nyata  terhadap viabilitas dan vigor  bibit (Bonner, 1987). Hendromono (1996) menyatakan bahwa benih  Hymenaea courbaril  yang berukuran besar menghasilkan bibit yang pertumbuhannya lebih cepat daripada benih kecil walaupun diameter pangkal batang bibit tidak ada perbedaan yang nyata, diduga karena benih besar mempunyai embrio dan cadangan makanan yang lebih besar sehingga pertumbuhannya lebih cepat. Sifat ini berlanjut sampai tanaman berumur satu tahun di lapangan. Hal serupa juga terjadi pada jenis Liquidambar  styraciflua  (Bonner, 1987), tetapi Chaisurisri,  et al. (1994) tidak menemukan hubungan yang nyata secara statistik antara benih berukuran besar dan kecil dengan pertumbuhan semai Picea sitchensis pada umur 8 bulan (Suita, 2008).  
BAB 3. METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
          Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2013 pada pukul 06.00-07.30 bertempat di laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Alat
1.     Cutter
2.     Cawan petri
3.     Alat Pengecambah
4.      Kertas label
5.      Substrat kertas merang
6.      Kertas karbon hitam
7.      Kapas

3.2.1   Bahan
1.      Buah pepaya yang telah masak (masak fisiologis).
2.      Abu gosok

3.3 Cara Kerja
1.     Mempersiapkan benih pepaya yang diambil dari bagian tengah buah pepaya (lebih kurang 1/3 bagian).
2.     Membuang aril Benih pepaya dengan abu dapur, kemudian mencuci bersih dan meniriskannya.
3.     Benih pepaya dibuat perlakuan sebagai berikut :
a.      benih tidak dikupas kulitnya/endotestanya.
b.     benih kulitnya dikupas sebagian.
c.      Benih kulitnya dikupas seluruhnya.
Setelah itu dikering-anginkan sampai kering atau dikeringkan dengan sinar matahari selama satu hari, kemudian dikecambahkan pada kondisi gelap dan terang.
4.     Membuat media perkecambahan dengan menggunakan substrat kertas merang yang dilapisi kapas dalam cawan petri sebanyak enam kombinasi perlakuan dalam satu dua ulangan.
5.     Menanam benih pepaya dalam substrat yang terlebih dahulu dibasahi dengan air, masing-masing sebanyak 25 butir.
6.     Melakukan perkecambahan benih  dengan kondisi gelap dan terang, untuk kondisi gelas cawan petri ditutup kertas karbon hitam, sedangkan kondisi terang petridis tanpa tutup, kemudian masing-masing perlakuan letakkan pada alat pengecambah.
7.     Menjaga kelembaban substrat perkecambahan dengan memberikan air secukupnya.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Perlakuan
ulangan
Perkecambahan
Kulit benih pepaya
Kondisi perkecambahan
Hari ke-8
Hari ke- 14
Normal
Mati
Normal
Abnormal
Mati
Benih tidak dikupas kulitnya
Terang
1
0%
100%
0%
0%
100%
Gelap
1
0%
100%
0%
0%
100%
Benih kulitnya dikupas sebagian
Terang
1
20%
80%
20%
0%
80%
Gelap
1
0%
100%
0%
0%
100%
Benih tanpa kulitnya dikupas
Terang
1
0%
100%
0%
0%
100%
Gelap
1
0%
100%
0%
0%
100%

Tabel 2.JumlahKecambah Normal
Jumlahkecambah normal
Perlakuan
Tidakdikupas
Kupassebagian
Kupassemua
Terang
0%
20%
0%
Gelap
0%
0%
0%

Tabel 3.Jumlah Kecambah Mati Dan Abnormal
Jumlah Kecambah Mati Dan Abnormal
Perlakuan
Tidakdikupas
Dikupassebagian
Dikupassemua
Terang
100%
80%
100%
Gelap
100%
100%
100%

4.2 Pembahasan
Padaa perlakuan benih yang tidak dikupas kulitnya baik perlakuan pada kondisi terang ataupun gelap sama-sama tidak mengalami perkecambahan, kondisi ini disebabkan dormansi kulit yang kuat. Kulit pada peapya terdapat dua lapisan dan ini yang membuat sulit embrio berkecambah. Pada perlakuan kulit dikupas separuh atau sebgaian pada perlakuan terang 20% biji dapat tumbuh normal pada hari ke – 8, hingga hari ke – 14 pun hanya pada perlakuan teerang pada pengupasan kulit sebagian yang tumbuh. Pada perlakuan gelap dan pengupasan kulit sebagian tidak tumbuh, ini disebabkan pada masa benih berkecambah dibuthkan cahaya dengan panjang gelombang 660-700 nM untuk mengaktifakn metabolismenya. Perlakuan mengupas kulit seluruhnya pada kondisi terang dan gelap tidak menghasilkan perkecambahan sama sekali, ini mungkin terjadi karena terlukanya benih saat pengupasan dan menyebabkan matinya benih.
Faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih pepaya adalah dormansi kulit, cahaya dan suhu. Kulit pada benih pepaya sangat tebal dan terdiri dari dua lapisan yang membuat embrio kesulitan untuk tumbuh. Cahay sangat berpengaruh dalam perkecambahan, panjang gelombang cahaya yang dibutuhkan tanaman berkisar 660-700 nM.
Cahaya berguna pada perkcambahan benih pepaya sebgai pengaktif metabolisme pada benih. Cahay yang datang akan disaring oleh kulit, agar tidak semua panjang gelombang cahaya dapat masukd dan diterima oleh benih, cahaya yang sesuai untuk perkecambahan berkisar 660- 700 nM. Pepaya memilki dua laipasan yang meildungi embrio.
Pada praktikum ini dapat terlihat bahwa pada pengupasan sebagia kulit menghasilkan pertumbuahan kecambah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kemungkinan pada perlakuan pegupasann keseluruhan kulit, embrio terlukan dan mengakibatkan matinya embrio dan tidak dapat berkecambah. Pada perlakuan pengpasan sebgaian 20% beih tumbuh. Pada perlakuan tanpa kupasan masih belum tumbuh, kemungkinan memerlukan waktu perkecambahn yang lebih lama.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pada perlakuan pengupasan kulit sebgaib dan kondisi terang dapat menumbuhkan 20% biji hingga hari ke-14. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daya kecambah dan kecepatan berkecambah terbaik terdapat pada perlakuan pengupasan kulit sebgaian dan kindisi terang.

5.2 Saran
Diperlukan kehati-hatian dalam mengupas kulit ari biji pepaya karena bila embrio terluka saat pengupasan biji akan mati dan tidak dapat berkecambah.




















DAFTAR PUSTAKA
Mugnisjah Q. 1994. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Ngitung R, et al. 2008. Fenologi dan Tingkat Kemasakan Benih Mengkudu. Agroland Vol 15 no. 3 hal 204-209.
Saleh SM, et al. 2008. Pengaruh Skarifikasi dan Media Tumbuh Terhadap Viabilitas Benih dan Vigor kecambah Aren. Agroland Vol 15 no. 183-190
Siregar. 1981. Budidaya Tanaman Padi. Sastra Husada.
Widyawati. 2009. Permeabilitas dan Perkecambahan Benih Aren. Agronomi Indonesia vol 37 no 2 hal 152-158

Tidak ada komentar:

Posting Komentar